Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Dubai, Agustus 2025
Matahari Agustus di Dubai tidak pernah mengenal kata kompromi, ia selalu disiplin, datang, bersinar dan memukul-mukul dinding kaca apartemen lantai dua puluh hingga garis cahaya putih menorehkan luka presisi di atas lantai marmer, lurus dan tajam, seperti penggaris arsitek yang dipaksa membelah gurun pasir Dubai yagn tak berujung. Di dalam ruangan yang dingin oleh hembusan AC yang konstan, Hyosoka Hoshikawa berdiri mematung memandangi arus mobil di Sheikh Zayed Road yang tampak seperti baris kalimat panjang tanpa titik.
Ia telah berhasil menjadi makhluk fungsional. Di depan layar laptop, ia merapikan spreadsheet dan membalas email kantor dengan kecepatan robotik—cepat, konstan, seperti robot. Namun, di balik kamera meeting, wajahnya hanyalah pantulan dari seseorang yang inti dirinya telah lama hialng, mati dan tidak pernah bisa ditemukan lagi. Ia hanyalah seonggok badan yang tak lagi bernyawa, yang melakukan rutinitas dari pagi hingga malam hari agar dunia tidak curiga bahwa ia sudah hampa.
Ponsel yang tergeletak dengan layar menghadap ke bawah di meja kopi akhirnya ia raih. Benda itu terasa lebih berat daripada gabungan logam dan kaca. Saat layarnya menyala, sebuah angka muncul menghunus tepat di ulu hatinya: 22:08.
Bagi Soka, ini bukan sekadar penanda waktu malam, angka itu adalah hantu bernama Catty—kekasih dari masa kuliah yang dulu pernah bertahta lama sebelum akhirnya menyerahkan undangan pernikahan dengan pria lain ke tangan Soka. Munculnya angaka 22:08 memicu rasa sesak yang akrab, sebuah stigma kegagalan yang mengingatkannya bahwa ia pernah kalah. Namun, kali ini sesaknya berbeda. Ada tekanan kerinduan yang lebih dalam, bukan untuk Catty, melainkan untuk Lizzy. Ia menyadari bahwa 22:08 ini, kembali untuk mengingatkannya pada kegagalan yang sama.
Jemari Soka bergerak pelan menyentuh ikon aplikasi yang tak lagi berwarna, mencari nama Elizabeth Warren di dalam folder "Archive"—sebuah laci penyimpanan sunyi tempat ia menyimpan hal-hal yang belum sanggup ia lepaskan. Di sana, simbol 15:06 yang mewakili Lizzy kini membeku dalam keheningan. Sudah tiga puluh hari sejak Lizzy memutuskan semua komunikasi, tidak ada lagi notifikasi chat, tidak ada lagi IG story yang selalu hadir tiap hari, meninggalkan Soka dalam ketakutan nyata bahwa sejarah sedang mengulang dirinya sendiri.
Ia teringat kembali pada Agustus 2024 di Jakarta, saat Lizzy dengan ceria berjkanji akan menggantikan posisi 22:08 di hati Soka dengan 15:06. Namun kini, di bawah langit Dubai yang tak pernah hujan, Soka menyadari sebuah kesamaan teragis, baik 22:08 maupun 15:06 adalah angka yang tidak pernah bisa ia miliki. Keduanya adalah wanita yang ia cintai, dan keduanya berakhir dengan menikahi pria lain.
Soka menempelkan kening ke kaca jendela yang terlalu bersih, seolah menguji bibir agar bisa terus berucap pada kalimat yang tidak bisa ia kirim ke siapa pun.
"Aku di sini," bisiknya pelan.
Di dalam kepalanya, frekuensi itu seolah, menembus jarak ribuan kilometer. Ia seolah bisa melihat Lizzy sedang berdiri di depan cermin dalam balutan gaun penagntin yang putih dan menyakitkan, bersiap untuk benar - benar mengubah 15:06 menjadi sebuah memori yang hanya bisa ia pandang dari kejauhan. Di sana Lizzy mungkin sedang menyeka air mata yang merusak riasannya, dihantui oleh suara batin Soka yagn pernah berkata: "You know I'm planning to put my last name on you, my lips, my everything."
Soka mematikan layar ponselnya, membiarkan kegelapan menelan angka 22:08. Ia menarik nafas dalam kesunyian apartemennya, tanpa tahu bahwa kelak disebuah gerbang bandara, cahaya lampu jam menunjukan pukul 15:06 akan datang bukan lagi untuk menusuk sebagai pengingat luka, melainkan untuk menggantikan lukanya menjadi sebuah arah baru. Ia akan belajar untuk membiarkan kenangan itu mekar, bukan lagi berdarh.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.