CeritaGW
Buku / Bab
Bab 10508 kata

Bab 10: The Silent Protocol

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Dubai, Agustus 2025

Ada frekuensi sunyi di Dubai yang hanya bisa didengar oleh orang-orang yang gagal melupakan. Soka berdiri di balkon, menatap jam digital di ponselnya yang menunjukkan angka 15:06—angka yang dulu Lizzy janjikan akan menjadi "rumah baru" untuk menggantikan trauma 22:08. Namun di Dubai, angka itu kini hanya terasa seperti monumen sunyi. Soka merenungkan bahwa jarak terjauh bukanlah ribuan kilometer antara Dubai dan Jakarta, melainkan sebuah pesan yang berstatus Read tanpa balasan. Baginya, hening bukan berarti ketiadaan suara, melainkan kehadiran sebuah ketidakpastian yang mengonsumsi memori batinnya seperti memory leak pada sistem yang sedang menuju crash.

Jakarta, Maret 2024

Sistem batin Soka resmi mengalami downtime total sesaat setelah pesawat JL726 lepas landas. Di ruang kerjanya yang sunyi di Isoke Space, ia terus memantau flight tracker di salah satu monitornya, menyaksikan titik kecil di layar itu membawa Lizzy pergi menjauh dari jangkauan sinyalnya. Logikanya berulang kali mencoba melakukan debugging pada rasa cemasnya; Lizzy bilang ia melakukan solo trip untuk mencari jati diri (self-finding), namun insting Soka terus membisikkan variabel gangguan bernama Daniel Harper.

"15 hari di neraka dimulai," gumam Soka pelan sambil menyesap kopi yang mulai dingin.

Selama di Jepang, Lizzy seolah menginstal protokol keamanan baru yang sulit ditembus. Komunikasi yang biasanya memiliki frekuensi 100% dengan balasan instan, kini merosot menjadi latensi tinggi. Pesan Soka sering kali dibiarkan menggantung berjam-jam.

"Gimana Jepang? Ketemu sakura yang paling cantik?" ketik Soka suatu malam, mencoba menekan egonya agar tidak terlihat menuntut.

Balasan Lizzy datang lima jam kemudian, singkat dan dingin: "Cantik, Kaka. Lagi di-recharge di sini. I need this silence.".

Kata "Silence" itu menghantam Soka lebih keras daripada eskalasi kerja mana pun. Ia mulai melakukan audit forensik pada setiap IG Story yang Lizzy unggah—mencari pantulan bayangan di kaca kedai kopi di Shibuya atau ujung sepatu yang bukan milik Lizzy di kuil-kuil Kyoto. Soka merasa terjebak dalam loop penantian, di mana setiap detik di Jakarta terasa seperti satu jam, sementara bagi Lizzy, waktu mungkin sedang berjalan begitu indah tanpa dirinya.

Di hari ketujuh, Soka tidak tahan lagi. Ia mengirimkan protokol rutinnya: Reality Check.

"Berapa persen trust level hari ini?" tanya Soka.

"8.5. Masih ada yang mengganjal, Kaka. Takut kaget lagi kalau pulang nanti," jawab Lizzy dari kejauhan.

Soka menatap angka 8.5 itu dengan getir. Ia menyadari bahwa selama di Jepang, Lizzy bukan sedang melakukan perbaikan pada luka mereka, melainkan sedang belajar untuk bernapas kembali di luar "Rumah Aman" yang Soka bangun. Sakura di Jepang memang indah, namun Soka tahu keindahannya bersifat sementara—sama seperti perannya sebagai penyejuk yang kini mulai digantikan oleh kesunyian yang Lizzy temukan di bawah pohon sakura pertama di Ueno Park.

Dubai, Agustus 2025

Soka mematikan layar ponselnya, membiarkan kegelapan menelan angka 15:06. Janji Lizzy, "U’ll be the first to know kok," kini terasa seperti barisan kode yang tertutup komentar—ada di sana, terbaca, namun tidak akan pernah bisa dieksekusi lagi oleh sistem mana pun. Ia menyadari ironi pahitnya: ia memang menjadi yang pertama tahu saat Lizzy memutuskan untuk pergi selamanya, bukan melalui kata-kata, melainkan melalui blokir yang dingin dan sunyi digital yang kini menjadi sistem operasi permanen dalam hidupnya di Dubai.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 10 / 10
There is no us
09

The Pre-Japan Protocol

802 kata / Terkunci

10

Bab 10: The Silent Protocol

508 kata / Sedang dibaca