Forever Alone
Stranger With History
Mulai membaca
“Ini, Nduk, permen” kakekku memberikan segenggam permen ke tangan
kecilku.
Aku menoleh ke arah ibu yang duduk di ujung kursi ruang tamu kakek. Ibu
mengacungkan jari dua. Aku segera mengambil dua permen, dan
mengembalikan sisanya pada kakek.
“Nduk, mau gulali?” Kakek datang ke rumah membawa gulali kacang warna
merah terbungkus kertas. Aku menoleh ke arah ibu yang sedang melangkah
menuju ke arahku. Diambilnya gulali bundar dan besar dari tanganku, lalu
dipotek. Bagian yang kecil diberikan padaku.
Salah satu kejadian saat aku kecil yang tersimpan di korteks serebral, bagian
otak penyimpan memori. Dulu aku merasa itu menyebalkan. Aku jadi tidak
bisa makan banyak permen dan gulali kacang kesukaanku karena ibu. Huh!!
Aku ingin ibu sejenak pergi dari rumah, setidaknya untuk seminggu. Biar aku
puas makan semua makanan yang diberikan kakek.
Dua puluh tahun terlewati. Aku bisa memaklumi gadis kecil berusia 6, jengkel
atas peraturan seorang ibu. Aku yang sekarang, tak ada rasa ingin ibuku pergi
barang satu hari. Berkat ibu yang selalu membatasi asupan gula. Aku tumbuh
sehat, bebas penyakit apapun. Wajahku jarang kena jerawat dari mulai masa remaja belasan tahun, hingga lewat 20-an. Warisan kebiasaan dan tabungan
gizi dari kecil membuatku menjadi perempuan dewasa yang kuat menghadapi
Badai.
Jauh dari rumah untuk kuliah dan sekarang bekerja, sering sekali menjalani
hari-hari dengan mode bertahan. Pagi desak-desakan di kereta, tiba di kantor
siap menyingsingkan lengan untuk memenuhi target dari atasan. Pulang,
harus lari mengejar jadwal kereta. Saat akhir pekan, rekap pengeluaran dan
memenuhi deretan tagihan. In this economy, cukup mencekik!
Kehidupan dewasa bukan hanya seputar bekerja dan tagihan saja ternyata.
Hubungan manusia dengan manusia terkadang bagai ayam yang diincar
biawak.
"Pinjem uang dong. Bulan ini banyak pengeluaran nih" chat dari seorang
teman.
"Perempuan kok pulang malam, dasar perawan tua!!” Kata tetangga melihat
perempuan berbaju rapi, menenteng tas, pulang larut malam.
"Kita kan udah putus. Balikin semua barang yang aku kasih ke kamu ya" Pinta
lelaki yang pernah bersama selama 2 tahun.
Menyebalkan, merepotkan, dan bikin sesak. Hanya bisa diakhiri dengan
adegan menangis di bawah bantal hingga pagi. Lalu bangun melakukan
rutinitas lagi.
Pulang kantor, aku rogoh saku celana kotor yang tergantung di balik pintu
kamar. Hari Rabu, jadwalnya untuk cuci baju. Aku menemukan satu permen
rasa ceri. Aku tersenyum mengingat kenangan masa kecil antara aku, ibu, dan
permen.
Kini, aku yang terus tumbuh mulai menyadari satu hal: kehidupan di dunia,
berjalan seperti ingatanku akan permen. Apa yang membuat jengkel dulunya,
berubah menjadi sesuatu yang disyukuri. Adakalanya aku menghabiskan
malam dengan tangisan dan teriakan di bawah bantal. Pada malam-malam
bulan selanjutnya atau beberapa tahun kemudian. Pasti aku akan melihat
diriku yang jauh lebih kuat lagi.
Satu bungkus permen ceri di tangan kanan, aku remas sekuat tenaga.
Membentuk satu kepalan yang siap menghantam. Bergumam lirih “ternyata
ibu sudah memberikan spoiler dunia dewasa sejak aku kecil”. Terima kasih ibu.