CeritaGW
Buku / Bab
Bab 01464 kata

In the name of Love

FA

Forever Alone

Stranger With History

Mulai membaca

“Ini, Nduk, permen” kakekku memberikan segenggam permen ke tangan

kecilku.

Aku menoleh ke arah ibu yang duduk di ujung kursi ruang tamu kakek. Ibu

mengacungkan jari dua. Aku segera mengambil dua permen, dan

mengembalikan sisanya pada kakek.

“Nduk, mau gulali?” Kakek datang ke rumah membawa gulali kacang warna

merah terbungkus kertas. Aku menoleh ke arah ibu yang sedang melangkah

menuju ke arahku. Diambilnya gulali bundar dan besar dari tanganku, lalu

dipotek. Bagian yang kecil diberikan padaku.

Salah satu kejadian saat aku kecil yang tersimpan di korteks serebral, bagian

otak penyimpan memori. Dulu aku merasa itu menyebalkan. Aku jadi tidak

bisa makan banyak permen dan gulali kacang kesukaanku karena ibu. Huh!!

Aku ingin ibu sejenak pergi dari rumah, setidaknya untuk seminggu. Biar aku

puas makan semua makanan yang diberikan kakek.

Dua puluh tahun terlewati. Aku bisa memaklumi gadis kecil berusia 6, jengkel

atas peraturan seorang ibu. Aku yang sekarang, tak ada rasa ingin ibuku pergi

barang satu hari. Berkat ibu yang selalu membatasi asupan gula. Aku tumbuh

sehat, bebas penyakit apapun. Wajahku jarang kena jerawat dari mulai masa remaja belasan tahun, hingga lewat 20-an. Warisan kebiasaan dan tabungan

gizi dari kecil membuatku menjadi perempuan dewasa yang kuat menghadapi

Badai.

Jauh dari rumah untuk kuliah dan sekarang bekerja, sering sekali menjalani

hari-hari dengan mode bertahan. Pagi desak-desakan di kereta, tiba di kantor

siap menyingsingkan lengan untuk memenuhi target dari atasan. Pulang,

harus lari mengejar jadwal kereta. Saat akhir pekan, rekap pengeluaran dan

memenuhi deretan tagihan. In this economy, cukup mencekik!

Kehidupan dewasa bukan hanya seputar bekerja dan tagihan saja ternyata.

Hubungan manusia dengan manusia terkadang bagai ayam yang diincar

biawak.

"Pinjem uang dong. Bulan ini banyak pengeluaran nih" chat dari seorang

teman.

"Perempuan kok pulang malam, dasar perawan tua!!” Kata tetangga melihat

perempuan berbaju rapi, menenteng tas, pulang larut malam.

"Kita kan udah putus. Balikin semua barang yang aku kasih ke kamu ya" Pinta

lelaki yang pernah bersama selama 2 tahun.

Menyebalkan, merepotkan, dan bikin sesak. Hanya bisa diakhiri dengan

adegan menangis di bawah bantal hingga pagi. Lalu bangun melakukan

rutinitas lagi.

Pulang kantor, aku rogoh saku celana kotor yang tergantung di balik pintu

kamar. Hari Rabu, jadwalnya untuk cuci baju. Aku menemukan satu permen

rasa ceri. Aku tersenyum mengingat kenangan masa kecil antara aku, ibu, dan

permen.

Kini, aku yang terus tumbuh mulai menyadari satu hal: kehidupan di dunia,

berjalan seperti ingatanku akan permen. Apa yang membuat jengkel dulunya,

berubah menjadi sesuatu yang disyukuri. Adakalanya aku menghabiskan

malam dengan tangisan dan teriakan di bawah bantal. Pada malam-malam

bulan selanjutnya atau beberapa tahun kemudian. Pasti aku akan melihat

diriku yang jauh lebih kuat lagi.

Satu bungkus permen ceri di tangan kanan, aku remas sekuat tenaga.

Membentuk satu kepalan yang siap menghantam. Bergumam lirih “ternyata

ibu sudah memberikan spoiler dunia dewasa sejak aku kecil”. Terima kasih ibu.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 01 / 1
Stranger With History
01

In the name of Love

464 kata / Sedang dibaca